Jumat, 14 Oktober 2011

Konsep Teori Lanjut Usia (Lansia)

Konsep Teori Lanjut Usia (Lansia)

2.3    Konsep Lansia


2.3.1    Pengertian Lansia


Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangkan secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya, sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (Nugroho, 2000: 13).

Proses menua merupakan proses yang terus-menerus (berlanjut) secara alamia. Dimulai sejak lahir dan umumnya dialami semua makhluk hidup (Wahyudi Nugroho, 2000: 13).

Menurut undang-undang no. 9 tahun 1960 tentang pokok-pokok kesehatan pasal 8 ayat 2, berbunyi: Dalam istilah sakit termasuk cacat, kelemahan dan lanjut usia. Berdasarkan pertanyaan ini, lanjut usia dianggap sebagai semacam penyakit. Hal ini tidak benar menurut Gerontologi berpendapat lain, sebab lanjut usia bukan suatu penyakit, malainkan suatu masa atau tahap hidup manusia. Seperti: bayi, kanak-kanak, dewasa tua dan lanjut usia. Orang mati tidak karena lanjut usia, tetapi karena suatu penyakit dan juga suatu kecelakaan. Menurut orang beragama seperti dicabut nyawa oleh malaikat Izrail atas kehendak Allah SWT .

         2.3.2    Faktor–faktor yang mempengaruhi ketuaan


Faktor–faktor yang mempengaruhi ketuaan meliputi:

Herditas = keturunan atau genetic, Nutrisi = makanan, Pengalaman hidup , Lingkungan , Stres ( Wahyudi Nugroho, 2000: 19)

         2.3.3.   Batasan-batasan lanjut lansia


                     1)   Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO)

                           Lanjut usia meliputi :

a.  Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45 tahun sampai 59 tahun.

b.   Lanjut usia (elderly), ialah kelompok usia 60 tahun sampai 74 tahun.

c.   Lanjut usia tua (old), ialah kelompok usia 75 tahun sampai 90 tahun.

d.   Usia sangat tua (very old), ialah kelompok usia di atas 90 tahun

2)   Menurut Prof. Dr. Ny. Sumiati Ahmad Muhammad

Membagi periodisasi biologis perkembangan manusia sebagai   berikut :

1.      Usia 0 – 1 tahun          = masa bayi

2.      Usia 1 – 6 tahun          = masa pra sekolah

3.      Usia 6 – 10 tahun        = masa sekolah

4.      Usia 10 – 20 tahun      = masa pubertas

5.      Usia 40 – 65 tahun      = masa setengah umur (pra senium)

6.      Usia 65 tahun ke atas  = masa lanjut usia (senium)

3)   Menurut Dra. Jos Masdani

Mengatakan : Lanjut usia merupakan kelanjutan dari usia dewasa kedewasaan dapat dibagi 4 bagian, pertama adalah fase inventus, antara 25 sampai 40 tahun, kedua adalah fase vertilitas, antara usia 40 sampai 50 tahun. Ketiga fase prasenium antara usia 65 tahun sampai 89 tutup usia.

4)   Menurut Prof. Dr. Koesoemoto Setyonegoro

Pengelompokkan lanjut usia sebagai berikut :

a.  Usia dewasa muda (eldey adulthood), antara usia 18 atau 20 sampai 25 tahun.

b.   Usia dewasa penuh/mortalitas, antara usia lebih dari 25 sampai 60 tahun atau 65 tahun.

c.   Lanjut usia (geriaticage), antara usia lebih dari 65 tahun sampai 70 tahun.

d.   Young Old, antara usia 70 sampai 75 tahun.

e.   Old, antara usia 75 sampai 80 tahun.

f.    Very old, usia lebih dari 80 tahun.

Dilihat dari pembagian umur dari beberapa ahli tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa yang disebut lanjut usia adalah orang yang telah berumur 65 tahun ke atas.

         2.3.4    Perubahan–perubahan yang terjadi pada Lansia


                     1.   Perubahan fisik, yaitu :

a. Pada sel jumlahnya lebih sedikit, lebih besar ukurannya dan terganggunya mekanisme perbaikan sel.

b. Pada sistem persyarafan terjadi penurunan berat otak 10–20%, cepatnya menurut hubungan persyarafan lambat dalam respon  dan waktu untuk beraksi, mengecilnya syaraf panca indera, kurang sensitif terhadap sentuhan.

c. Pada sistem pendengaran terjadi presbiakusis (gangguan pada pendengaran). Terjadi pengumpulan serumen dapat mengeras karena meningkatnya keratin membrane tympani menjadi menyebabkan otosklerosis

d. Pada sistem kardiovaskuler, elastisitas dinding aorta menurun, katub jantung menebal dan menjadi kaku. Kemampuan jantung, memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun, hal ini data menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya. Kehilangan elastisitas pembuluh darah, kurangnya efektifitas pembuluh darah kapiler untuk oksigenasi, perubahan posisi dari tidur ke duduk (mengakibatkan pusing mendadak), tekanan darah meninggi diakibatkan oleh meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer, sistolis normal lebih kurang 170 mmHg dan diastolis normal lebih kurang 90 mmHg.

e.  Pada sistem respirasi, otot–otot pernapasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku. Menurutnya aktifitas dari silia, paru–paru kehilangan elastisitas, kapasitas residu meningkat, menarik napas lebih berat, kapasitas pernapasan maksimum menurun dan kedalam menurun. Alveoli ukurannya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang, O2 pada arteri menurun menjadi 75 mmHg, CO pada arteri tidak berganti kemampuan pegas dinding arteri dan kekuatan otot pernapasan akan menurun seiring dengan pertambahan usia.

f.   Sistem gastrointestinal kehilangn gigi penyebab utama adanya periodontal desease yang bisa terjadi setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk. Indera pengecap (80%), hilangnya sensivitas dari rasa pengecap tentang rasa asin, asam, dan pahit, esophagus melebar lambung : rasa lampur menurun asal lambung menurun, waktu mengosongkan menurun periastik lemah dan biasanya timbul konstipasi, fungsi absorbsi melemah, hati makin mengecil dan menurunnya penyimpanan, berkurangnya aliran darah, menciutnya ovari dan uterus, atrofi payudara. Pada laki-laki testis masih dapat memproduksi spermatozoa, meskipun adanya penurunan secara berangsur-angsur. Dorongan seksual menetap sampai usia di atas 70 tahun (asal kondisi kesehatan baik, yaitu kehidupan seksual dapat diupayakan sampai masa lanjut, hubungan seksual secara teratur membantu memepertahankan kemampuan seksual, tidak perlu cemas karena merupakan perubahan alami selaput lendir vagina menurun, permukaan menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya menjadi alkali dan etrjad perubahan-perubahan warna.

g.      Pada sistem genitourinaria, aliran darah ke ginjal menurun sampai 50%, fungsi tubulus berkurang, akibatnya kurangnya kemampuan mengkonsentrasi urine, berat jenis-jenis urine menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekuensi buang air seni meningkat, vasika urinaria sudah dikosongkan pada pria usia lanjut, sehingga mengakibatkan meningkatnya refensi urine : atrovi vulva, untuk seksual intercourse masih juga membutuhkannya. Tidak ada batasan unsur tertentu fungsi seksual seseorang berhenti, frekuensi seksual intercourse cenderung menurun secara bertahap tiap tahun tetapi kapasitas untuk melakukan dan menikmati berjalan terus sampai tua.

h.      Pada sistem endokrin, produksi hampir semua hormon menurun, fungsi paratiroid dan sekresinya tidak berubah, menurunnya aktivitas tiroid. Menurunnya produksi aldosteron, menurunnya sekresi hormon kelamin.

i.        Pada sistem intergumen kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak, permukaan kulit kasar dan bersisik, menurunnya respon terhadap trauma, mekanisme proteksi kulit menurun, kulit kepala dan rambut menipis berwarna kelabu, rambut dalam hidung dan telinga menebal, berkurangnya elastisitas akibat dari menurunnya cairan dan vaskularisasi, pertumbuhan kuku lebih lambat, kuku jari menjadi keras dan rapuh kuku kaki tumbuh secara berlebih dan seperti tanduk, kelenjar keringat berkurang jumlahnya dan fungsinya, kuku menjadi pudar dan kurang bercahaya.

j.        Para sistem muskuluskeletal, tulang kehilangan density (cairan) dan makin rapuh kifosis pinggang, lutut dan jari-jari pergelangan terbatas, persendian membesar dan menjadi kaku. Tendon mengerut dan mengalami selerosis, otot-otot polos tidak begitu berpengaruh, trofi serabut otot.

k.      Pada sistem paengaturan temperatur tubuh, hipotalamus dianggap bekerja sebagai suatu termasuk, yaitu menetapkan suatu suhu tertentu, kemunduran terjadi karena berbagai faktor yang mempengaruhi.

                     2. Perubahan-perubahan mental

                           Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental antara lain : perubahan fisik khususnya organ perasa. Kesehatan umum tingkat pendidikan keturunan dan lingkungan.

                     3. Perubahan aspek psikososial

                           Pekerjaan yaitu memasuki masa pensiun. Idealnya masa pensiun merupakan waktu untuk menikmati hal ini dalam hidup, tetapi yang diharapkan adalah kebalikannya. Pensiun sering diasosiasikan dengan kehilangan seperti penghasilan, peran, kerugian, dan harga diri (Wahjudi Nugroho, 2000).

                           Lansia harus beradaptasi pada perubahan psikososial yang terjadi pada penuaan meskipun perubahan tersebut bervariasi, tetapi beberapa perubahan biasa terjadi pada mayoritas lansia.

a.  Pensiun

                        Pensiun sering dikaitkan secara salah dengan kepasifan dan pengasingan, dalam kenyataanya pensiun adalah tahap kehidupan yang dicirikan oleh adanya transisi dan perubahan peran yang dapat menyebabkan stress psikososial. Stres ini meliputi perubahan peran pada pasangan atau keluarga dan masyarakat isolasi sosial. Perencanaan pra pensiun sebaiknya pada usia baya dan esensial pada usia baya akhir. Seseorang yang merencanakan aktivitas pensiun juga mempunyai dampak pasangan. Contohnya ketegangan dapat terjadi karena adanya perubahan peran dan dukungan serta karena ibu rumah tangga mungkin merasa beban pekerjaan bertambah. Faktor paling kuat yang mempengaruhi kepuasan hidup seorang pensiun adalah  status kesehatan, pilihan untuk terus bekerja, pendapatan yang cukup.

b.  Isolasi Sosial

                        Banyak lansia mengalami isolasi sosial yang meningkat sesuai dengan usia. Tipe isolasi sosial yaitu sikap, penampilan, perilaku, dan geografi.

c.  Isolasi Sikap

                        Isolasi sikap terjadi karena nilai pribadi atau budaya. Lansiaisme adalah sikap yang berlaku yang mentigmatisasi lansia. Suatu bias yang dan meningkat lansia. Karena itu isolasi sosial sikap terjadi ketika lansia tidak secara mudah diterima dalam interaksi sosial karena bias masyarakat. Seiring lansia semakin ditolak, harga diripun berkurang, sehingga usaha bersosialisasi berkurang.

d.      Isolasi Penampilan

                        Isolasi penampilan diakibatkan oleh penampilan yang tidak diterima atau faktor lain yang termasuk dalam penampilan diri sendiri pada orang lain. Faktor kontribusi lain adalah citra tubuh, hygiene, tanda penyakit yang terlihat dan kehilangan fungsi. Seseorang disolasi kerena penolakan oleh orang lain atau karena sedikit interaksi yang dapat dilakukan akibat kesadaran diri.

e.       Isolasi Perilaku

                        Diakibatkan oleh perilaku yang tidak dapat diterima pada semua kelompok usia dan terutama pada lansia, perilaku yang tidak diterima secara sosial menyebabkan seseorang menarik diri.

f.       Isolasi Geografis

                        Terjadi karena jauh dari keluarga, kejahatan di kota dan karier institusi. Dalam masyarakat kini yang suka berpindah, umumnya anak hidup sangat jauh dari orang tuanya. Sehingga kesempatan untuk yang mempunyai keterbatasan fisik atau mengalami kematian pasangannya (Potter&Perry, 2005)

                        Tugas pengembangan dan adaptasi bagi lansia meliputi dengan keadaan kehilangan teman atau keluarga melalui kematian atau perpindahan lokasi, penyusunan terhadap masa pensiun, mengatasi keadaan dengan pendapatan yang menurun, bergelut dengan perubahan-perubahan peran sosial, memanfaatkan waktu senggan yang ada dengan baik, penyesuaian terhadap fungsi seksualitas dan fisik, dan menerima kenyataan akan kematian yang tidak terelakkan. (Joseph J. Gallo, 2998).

                        Perubahan-perubahan yang terjadi pada tubuh seiring dengan penambahan usia sering kali disertai dengan penyimpanan fisik dan psikologis (Joseph J. Gallo, 1998).

2.3.5    Aspek psikologis pada penuaan


Aspek psikologis pada penuaan pada lansia tidak dapat langsung tampak salah pengertian yang umum tentang lansia adalah bahwa mereka mempunyai kemampuan memori dan kecerdasan mental yang kurang adalah benar bahwa banyak lansia mempunyai cara yang berbeda dalam memecahkan masalah bahkan mereka dapat melakukannya dengan baik meskipun kondisinya telah menurun. Akan tetapi, juga terdapat bukti bahwa lansia mengalami kemunduran mental yang substansial atau luas (Roger Watson, 2003: 12).

2.3.6    Perlakuan Terhadap Lanjut Usia


Manusia usia lanjut dalam penilaian banyak orang adalah manusia yang sudah tidak produktif lagi. Dengan demikian diusia lanjut terkadang muncul semacam pemikiran bahwa mereka berada pada sisa-sisa umur menunggu datangnya kematian.

Di lingkungan peradaban barat, upaya untuk memberi perlakuan manusiawi kepada para manusia lanjut dilakukan dengan menempatkan mereka di panti jompo, dan ini merupakan cerminan dari rasa kasih sayang anak kepada orang tua.

            Manusia usia lanjut dipandang tak ubahnya seorang bayi yang memerlukan pemeliharaan dan perawatan serta perhatian khusus dengan penuh kasih sayang (Dr. Jalaluddin, 1997).

2.3.7    Sumber Dukungan Sosial


Sistem pendukung bagi lansia terdiri dari tiga komponen yaitu : jaringan-jaringan informasi, sistem pendukung formal, dan dukungan-dukungan semiformal. Jaringan pendukung informal meliputi keluarga dan kawan-kawan. Sistem pendukung formal meliputi tim keamanan sosial setempat, program-program medikasi dan kesejahteraan sosial. Dukungan semiformal meliputi bantuan-bantuan dan interaksi sosial yang disediakan oleh organisasi lingkungan sekitar seperti perkumpulan gereja atau perkumpulan warga lansia setempat (Joseph J. Gallo, 1998).

Sumber pendukung pertama biasanya merupakan anggota keluarga seperti pasangan, anak-anak, saudara kandung, atau cucu : namun struktur keluarga akan mengalami perubahan jika ada anggota yang meninggal dunia, pindah ke daerah lain atau menjadi sakit. Oleh karena kelompok pendukung yang lain sangat penting. Beberapa dari kelompok ini adalah tetangga, teman dekat, kolega sebalumnya dari tempat kerja atau organisasi dan anggota lansia di tempat ibadah. (Mickey Stanley, 2006).

Partisipasi aktif dalam kegiatan religius dapat menurun seiring dengan bertambahnya usia, tetapi beberapa orang lansia yang sebalumnya aktif di tempat ibadah biasanya ingin melanjutkan aktifitas religiusnya. Bahkan tempat ibadah dapat menjadi sumber dukugan sosial utama bagi lansia yang hanya sedikit atau tidak memiliki anggota keluarga didekatnya. Dukungan itu dapat diberikan oleh rohaniawan, sukarelawan yang dilatih atau staf atau sukarelawan dari tempat ibadah.

0 comments: