Selasa, 31 Juli 2012

Pancasila dalam Era Orde Lama

0 comments
A.    Sejarah Perkembangan Pancasila Orde Lama
Kedudukan pancasila sebagai idiologi Negara dan falsafah bangsa yang pernah dikeramatkan dengan sebutan azimat revolusi bangsa, pudar untuk pertama kalinya pada akhir dua dasa warsa setelah proklamasi kemerdekaan. Meredupnya sinar api pancasila sebagai tuntunan hidup berbangsa dan bernegara bagi jutaan orang diawali oleh kahendak seorang kepala pemerintahan yang terlalu gandrung pada persatuan dan kesatuan. Kegandrungan tersebut diwujudkan dalam bentuk membangun kekuasaan yang terpusat, agar dapat menjadi pemimpin bangsa yang dapat menyelesaikan sebuah revolusi perjuangan melawan penjajah( nekolim, neokolonialisme ) serta ikut menata dunia agar bebas dari penghisapan bangsa atas bangsa dan penghisapan manusia dengan manusia. Namun sayangnya kehendak luhur tersebut dilakukan dengan menabrak dan mengingkari seluruh nilai-nilai dasar pancasila.
     Orde lama berlangsung dari tahun 1959-1966. Pada masa itu berlaku demokrasi terpipin. Setelah menetapakan berlakunya kembali UUD 1945, Presiden Soekarno meletakkan dasar kepemimpinannya. Yang dinamakan demokrasi terimpin.
                  Adapun yang dimaksud dengan demokrasi terpimpin oleh Soekarno adalah demokrasi khas Indonesia yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Demokrasi terpimpin dalam prakteknya tidak sesuai dengan makna yang terkandung didalamnya dan bahkan terkenal menyimpang. Dimana demokrasi dipimpin oleh kepentingan-kepentingan tertetu.
  
B.     Penyimpangan-Penyimpangan Orde Lama
Penyimapangan-penyimpangan di era Orde Lama itu antara lain:
1.      Presiden membubarkan DPR hasil pemilihan umum 1955 dan membentuk DPR Gotong Royong. Hal ini dilakukan karena DPR menolak rancangan pendapaan dan belanja Negara yang diajukan pemerintah.
2.      Pimpinan lembaga-lembaga Negara  diberi kedudukan  sebagai menteri-menteri Negara yang berarti menempatkannya sebagai pembantu presiden.
3.      Kekuasaan presiden melebihi wewenang yang ditetapkan didalam UUD 1945. Hal ini terbukti dengan keluarnya beberapa presiden sebagai produk hukum yang setingkat dengan UUD tanpa prsetujuan DPR. Penetapan ini antara lain meliputi hal-hal sebagai berikut:
a)  Penyederhanaan kehidupan partai-partai politik dengan dikeluarkannya Penetapan Presiden nomer 7 than 1959
b)      Pembentukan Front Nasional dengan PEnetapan Presiden nomer 13 tahun 1959.
c)      Pengangkatan dan pemberhentian anggota-anggota MPRS, DPA dan MA oleh presiden.
4  Hak budget DPR tidak berjalan karena pemerintah tidak mengajukan rancangan undang-udang APBN untuk mendapatkan persetujuan DPR..
       
C.    Pengamalan Pancasila Di Era Orde Lama
Pada masa pemerintahan Orde Lama, kehidupan politik dan pemerintah sering terjadi penyimpangan yang dilakukan Presiden dan juga MPRS yang bertentangan dengan pancasila dan UUD 1945. Artinya pelaksanaan UUD1945 pada masa itu belum dilaksanakan sebagaimana mestinya. Hal ini terjadi karena penyelenggaraan pemerintahan terpusat pada kekuasaan seorang presiden dan lemahnya control yang seharusnya dilakukan DPR terhadap kebijakan-kebijakan.
          Selain itu, muncul pertentangan politik dan konflik lainnya yang berkepanjangan sehingga situasi politik, keamanaan dan kehidupan ekonomi makin memburuk puncak dari situasi tersebut adalah munculnya pemberontakan G 30 S/PKI yang sangat membahayakan keselamatan bangsa dan Negara.
                 Mengingat keadaan makin membahayakan Ir. Soekarno selaku presiden RI memberikan perintah kepada Letjen Soeharto melalui Surat Perintah 11 Maret 19669(Supersemar) untuk mengambil segala tindakan yang diperlukan bagi terjaminnya keamanaan, ketertiban dan ketenangan serta kesetabilan jalannya pemerintah. Lahirnya Supersemar tersebut dianggap sebagai awal masa Orde Baru.




Implementasi Pendidikan Islam di Sekolah

0 comments
A.    Strategi Penyelenggaraan Pendidikan Islam di Sekolah
Dalam menyelenggarakan pendidikan Islam di sekolah, ada tiga (3) aspek yang perlu diperhatikan yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik apabila hanya menyentuh aspek kognitif saja pendidikan islam di sekolah tidak akan maksimal karena peserta didik hanya memiliki pemahaman saja, tidak bisa menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.[1], maka hal ini bisa disiasati dengan berbagai cara, diantaranya :
1)      Menyelenggarakan Bina Rohani Islam (rohis)
Kegiatan Bina Rohani Islam (rohis), dapat dijadikan sebagai kegiatan ekstra kurikuler yang wajib diikuti oleh seluruh pelajar yang beragama Islam. Untuk mewujudkan kegiatan ini perlu dibuat program kerja yang matang sehingga dalam pelaksanaannya tidak berbenturan dengan kegiatan ekstrakurikuler lainnya, didanai dengan dana yang cukup, materi yang disampaikan dapat menunjang materi intrakurikuler dengan menggunakan metode yang menyenangkan tapi tetap edukatif serta memanfaatkan tenaga pengajar yang ada di lingkungan sekolah yang memiliki komitmen tinggi terhadap Islam
2)      Mengkondisikan sekolah dengan kegiatan keagamaan (Islamisasi Kampus)
Islamisasi kampus, memang terasa sangat ekstrim, tetapi hal ini dimaksudkan agar seluruh warga sekolah terutama yang beragama Islam bisa menjalankan sebagian syriat Islam di lingkungan sekolah sehingga situasi kondusif bisa tercipta di lingkungan sekolah tersebut. Misalnya : waktu istirahat diseusaikan denganw aktu sholat dzuhur, setiap bulan romadhon dan libur semester diadakan kegiatan pesantren kilat, dll.
3)      Menggunakan metode insersi (sisipan) dalam KBM metode insersi adalah cara menyajikan bahan pelajaran dengan cara; inti sari ajaran Islam atau jiwa agama disisipkan dalam mata pelajaran umum.[2]
Perlu disadari bahwa sebenarnya tanggung jawab pendidikan Islam di sekolah bukan hanya berada pada pundak guru pendidikan Agama Islam semata, tetapi menjadi tanggung jawa seluruh aparat sekolah yang dikoordinasi oleh kepala sekolah sebagai pemegang dan pengambil keputusan.[3]

B.     Faktor-Faktor Penghambat Penyelenggaraan Pendidikan Islam di Sekolah
Faktor penghambat pelaksanaan program pendidikan agama Islam di sekolah, antara lain :
1.      Faktor Eksternal
a.       Sikap orang tua yang kurang bmenyadari tentang pentingnya pendidikan Islam
b.      Sistuasi lingkungan sekitar sekolah dipengaruhi godaan-godaan setan dalam berbagai ragam bentuknya
c.       Dampak kemajuan ilmu dan teknologi dari luar negeri semakin melunturkan keagamaan
d.      Adanya gagasan baru dari para ilmuan untuk mencari terobosan baru terhadap berbagai problema pembagunan dan kehidupan remaja.
2.      Faktor Internal
a.       Guru kurang kompeten untuk menjadi tenaga profesional pendidikan
b.      Penyalahgunaan manajemen penempatan yang mengalih tugaskan guru agama ke bagian admnistrasi
c.       Pendekatan metologi guru masih terpaku kepada orientasi tradisional
d.      Kurangnya rasa solidaritas antara guru agama dengan guru umum
e.       Kurangnya waktu persiapan guru agama dalam mengajar karena disibukkan oleh usaha non guru.[4]

C.    Penyelenggaraan Pendidikan Islam di SMP – BU
Pendidikan di SMP-Bu mengacu pada pendidikan nasional akan tetapi lembaga ini masih mengkondisikan kegiatan keagamaannya misalnya; setiap bulan romadhon melaksanakan kegiatan pengumpulan dan pembagian zakat fitrah dan mal dengan melibatkan para pelajar sehingga mereka bisa mengetahui mekanisme pembagian zakat melalui praktek.
Lembaga ini juga banyak menyelenggarakan kegiatan keislaman misalnya : masih menyisipkan pelajaran keislaman, seperti : memberi pemahaman dan kemampuan membaca al Qur’an. Aqidah Akhalk, Fiqh Ibadah, dan materi-materi yang menunjang. Dalam satu hari lembaga ini menyajikan 2 jam pelajaran agama Islam dengan mengambil 2 jam pelajaran umum.
Pendidikan di SMP-BU masih diwarnai oleh beberapa nilai keislaman karena berada di bawah naungan yayasan Bahrul Ulum.[5]


[1] Haidar Putra Daulay, 2007. Pendidikan Islam pada Pendidikan nasional, Jakarta : Kencana Prenada Media Group, hal 39
[2] http://fahansyadda.wordpress.com
[3] Haidar Putra Daulay, op. cit., hal 40
[4] Djamaluddin dan Abdullah Ali, 1999, Kapita Selekta Pendidikan islam Bandung, CV. Pustaka Setia, hal 18-21
[5] Wawancara Kepala Sekolah SMP-BU hari Sabtu, pukul 12.00 WIB

Asasi Manusia dalam Pendidikan Islam

0 comments
A.    Azasi Manusia dalam Pendidikan Islam
Manusia sebagai makhluk yang diciptakan Allah dalam kondisi “ahsani taqwiim” mempunyai tiga dimensi hakekat, yaitu unsur jasmani, unsur rohani dan nafsani. Tiga dimensi hakekat ini yang menjadikan manusia berbeda dari makhluk yang lain.
Unsur rohaniyah dalam bahasa Ilmiah kita sebut dengan unsur kejiwaan. Dimana unsur kejiwaan ini akan melahirkan sberbagai macam aspek kejiwaan. Adapun aspek-aspek kejiwaan yang penting ialah aspek moral, intelektual, eestetis, religious dan aspek sosial.
Pengertian rohaniah menurut Al-Ghozali dikatakan bahwa hari dan yang lain adalah pusat yang merupakan sumber segala kegiatan kerohanian. Keduanya dalam bahasa arab di sebut dengan qolb. Sehingga qolb rohani ini memiliki kualitas-kualitas berupa kekuatan, kehendak, dan pengetahuan yang semuanya di jelmakan oleh “Lembaga Idrak” atau Tafahum.
Lembaga idrak ini dilukiskan oleh Dr. Majid Ursan al-Kailani dalam bukunya Ahdaafut Tarbiyah Al-Islamiyah, halaman 59 sebagai berikut:
Lembaga idrak ini menghasilkan keberbagai macam kemampuan-kemampuan misalnya :
  •          Qudratul hikmah
  •          Qudratul abshor
  •          Qudratul syuhud
  •          Qudratul nadhor
  •          Qudratul tadzakur
  •          Qudratul tafakkur
  •          Qudratul tadabbur
  •          Qudratul ta’wil

Idrak atau tafahum menurut Al-Ghazali dikatakan bahwa tanah dan semua yang ada di atasnya dan di bawahnya dalah milik Allah, sedang manusia sebagai khalifah-Nya. Jika idrak itu dimiliki umat manusia, maka kesetiaannya pada Allah akan menjadikan mereka menjadi manusia yang muttaqin (manusia paripurna). Sebaliknya, jika jiwanya diliputi hawa nafsu, maka perangkat qolb dan aktifitasnya dilemahkan dan dibekukan oleh Allah, dan secara bertahap mereka akan terbenam ke tingkat hewani (dari kumpulan surat-surat Al Ghozali)
Kedua, bahwa manusia itu mempunyai dua macam sifat azasi yaitu sebagai makhluk indiviual (perseorangan) dan makhluk sosial. Sebagai makhluk individual artinya bahwa manusia itu mempunyai keunikan-keunikan tersendiri. Mereka mempunyai sifat-sifat yang spesifik, yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Mausia sebagai makhluk sosial artinya bahwa manusia itu selalu mengadakan inter relationship diantara mereka. Makhuk yang mempunyai gairah untuk hidup bersama dengan manusia lain. Dan mereka selalu memiliki naluri ber-“jama’ah” (berkelompok)
Ketiga, bahwa manusia itu mempunyai hakekat sebagai makhluk susila atau makhluk ber-Tuhan. Artinya manusia itu mempunyai sifat atau dikaruniai sifat untuk dapat membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik menurut ukuran kesusilaan.

B.     Pandangan Islam tentang Kedudukan Manusia
1.      Sebagai pemanfaat dan penjaga kelestarian alam, Tuhan telah melengkapi manusia dengan potensi-potensi rohaniyah yang lebih dari makhluk-makhluk hidup yang lain, terutama potensi akal, maka pada manusia juga dibebani tugas untuk memelihara alam dan melestarikannya serta dilarang untuk merusaknya.

Artinya : "Maka apabila telah selesai mengerjakan shalat, hendaklah kamu bertebaran di muka bumi ini dan carilah karunia Allah dan ingatlah akan Allah sebanyak-banyaknya,mudah-mudahan kamu beroleh kemenagan.
2.      Sebagai makhluk yang bertanggung jawab
Setelah dengan kemampuan akalnya manusia meneliti, dan kemudian mengerti bahwa hakekat diciptakannya manusia dan alam semesta ini semata-mata untuk beribadah kepada-Allah, maka sebagai konsekuensinya diberika kedudukannya yang istiniewa oleh Allah, maka manusia juga dituntut bertanggung jawab terhadap                                          apa yang diperbuat di atas dunia kelak di akherat.
Firman Allah dalam surat At-Takatsur ayat 8 sebagai berikut :

Artinya : “Kemudian, sesungguhnya kamu akan diperiksa di hari itu dari segala yang telah kamu terima”.
3.      Sebagai makhluk yang dapat dididik dan mendidik
Latar belakang yang membelakangi mengapa Malaikat mau menghormat kepada Nabi Adam tidak lain adalah karena Nabi Adam mempunyai ilmu pengetahuan. Dengan demikian, maka anak turun nabi adam pun bisa dididik. Dan inilah mula-pertamanyamunculnya  tarbiyah (pendidikan) dalam sejarah umat manusia di muka bumi.
Sebagai makhluk yang dapat dididik dapat difahami dari firman Allah sebagai berikut :

Artinya : Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhya, kemudian mengemukakan kepada Malaikat, lalu Allah berfirman : "Sebut-kanlah kepada Ku nama benda-benda itu jika kamu orang-orang yang beriman" (QS. Al-Baqoroh : 31)

C.    Pola Pendidikan Islam
Dalam Al-Qur'an ada satu surat yang bernama surat Luqman, dimana Tuhan memberikan contoh  tentang pola pendidikan Islam  yang harus dilaksanakan oleh orang tua terhdap anak-anak mereka, sebagai mana yang sudah dilakukan oleh Luqman Hakim terhadap anak-anaknya di zaman purbakala.
Pokok-pokok yang dikemukakan oleh Luqman Hakim dalam nasehat kepada anaknya itu, dalam garis besarnya terdiri dari lima aspek, yaitu
1.      Pendidikan Aqidah (Tauhid)


 "... Hai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sebab perilaku syirik itu adalah satu aniaya (dosa) yang besar" (Luqman : 13)

Persoalan " Jangan mempersekutukan Allah" (syirik) itu, yang dalam ajaran Islam masuk dalam bidang Tauhid Aqidab, adalah merupakan landasan pokok dalam kehidupan manusia. Tidak heran apabila masalah tersebut diletakkan pada nomor satu dalam urutan rangkaian nasehat tersebut.
Tauhid membentuk jiwa dan sikap hidup manusia hanya percaya kepada Allah semata-mata, kepercayaan yang murni. Dengan pendidikan Tauhid anak-anak akan mempunyai pegangan, tidak.kehilangan kompas dalam situasi yang bagaimanapun, baik di waktu lapang maupun di waktu sempit. Sebab mereka percaya sepenuhnya, bahwa segala sesuatu yang ditemui dalam kehidupan ini, datangnya dari Yang Maha Kuasa dan akan kembali kepada-Nya pula.
2.      Pendidikan berbakti (Ubudiyah)


"Hai anakku! Tegakkanlah sembahyang (shalat) (Luqman : 17)
Dari urutan ini dapat dipahamkan, bahwa setelah seorang anak setelah mempunyai landasan yang kuat dalam kehidupannya, haruslah dididik supaya dia berbakti kepada Tuhan dengan mengerjakan shalat. Sebab shalat itu, selain sebagai tatacara ubudiyah dan berbakti kepada Allah, menunjukkan syukur atas nikmat-nikmat yang dikaruniakan-Nya, pun pengaruh shalat itu membawa nilai-nilai yang menguntungkan kepada mnanusia sendiri dalam kehidupan di dunia ini, baik menyangkut dengan soal-soal jasmaniah maupun rohaniah. Umpamanya, melatih kebersihan, kesehatan, disiplin, konsentrasi dan lain sebagainya.
Disebutkan shalat saja hanyalah sebagai contoh, sedang ibadah-ibadah lainnya seperti puasa, zakat, haji dan lain-lain tidaklah dapat dipisahkan dari rangkaian ubudiyah pokok.
3.      Pendidikan kemasyarakatan(Amar Ma'ruf Nahi Mun­kar)

"Suruhlah mengerjakan (perbuatan) yang ma'ruf (baik­baik), dan laranglah dari (perbuatan) yang munkar (buruk)"
4.      Pendidikan mental (Nafsiyah)
Disebutkan dalam sambungan ayat itu :

"Dan berlaku sabarlah (teguh hati) menghadapi peris­tiwa (musibah) yang menimpa engkau. Sesumgguhnya (sikap) yang demikian itu termasuk perintah yang sungguh-sungguh"

Sikap sabar dan teguh hati mengarungi gelombang hidup, terutama menghadapi musim pancaroba, adalah satu sikap mental yang diperlukan untuk mencapai sukses ­dan kemenangan dalam setiap usaha dan perjuangan. Keteguhan hati dapat membentuk kemauan yang keras, membaja-kan cita-cita, mengalirkan aktivitas dan dinamika, meng-hilangkan semangat lesu dan pesimisme, dan lain sebagainya.
5.      Pendidikan budi pekerti (Akhlaq)
Disebutkan lebih jauh pada sambungan ayat itu :


“Janganlah engkau memalingkan muka dari manusia karena kesombongan"


D.    Teori tentang Fitrah
1.      Madzhab pertama
Fitrah yang disebut dalam ayat dan hadits di atas mengandung implikasi kependidikan yang berkonotasi kepada-paham nativisme. Kata Fitrah berasal dari Fi'i1 madli "fathara" yang berarti "menjadikan". Jadi fitrah mengandung makna "kejadian" yang di dalamnya berisi potensi-potensi dasar beragama yang benar dan lurus (ad-dinul qoyyim) yaitu Islam. Potensi dasar itu tidak dapat diubah oleh siapapun atau oleh lingkungan yang bagaimanapun bentuknya. Karena fitrah itu merupakan ciptaan Allah yang tidak akan mengalami perubahan baik isi maupun bentuknya dalam tiap pribadi manusia.     

Artinya : "Setiap orang yang dilahirkan oleh ibunya atas dasar fitrah, maka setelah itu orang tuanya mendidik menjadi beragama Yahudi, Nasrani dan Majusi. Jika kedua orang tuanya itu beragama, maka anaknya akan menjadi Islam" (HR. Muslim, dalam As‑shohih II.p.459)



Artinya : "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tidaklah kamu mengetahui sesuatu apapun dan Ia menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan, dan hati ..."

Penulis berpendapat bahwa manusia yang lahir dari perut ibu sudah dibekali oleh Allah dengan kemampuan-kemampuan (capabilitas) yang waktu itu belum bisa berfungsi secara sempurna, kemudian karena faktor lingkunganyalah maka. Kemapmpuan-kemampuan itu kerkembang dengan sempuna. Dalam hal ini, penglihatan, pendengaran dan hati menjadi topik sentral hidup dan kehidupan umat manusia. Bukankah hal itu menunjukkan bahwa alat indera manusia merupakan jendela "ilmu pengetahuan".

E.     Tahap-Tahap Perkembangan Psikologi Anak Didik
Menurut Jean Jacques Rousseau (1712-1778), bahwa perkembangan fungsi dan kapasitas kejiwaan manusia berlangsung dalam lima tahapan, yaitu:
1.      Tahapan perkembangan masa bayi (sejak lahir – 2 tahun)
Dalam tahap ini perkembangan pribadi didominasi oleh perasan. Perasaan senang dan tidak senang selalu berkembang karena adanya stimuli lingkungannya.
2.      Tahapan perkembangan masa kanak-kanak (2-12 tahun )
Dalam tahap ini, perkembangan pribadi anak dimulai dengan makin berkembangnya fungsi-fungsi indera anak untuk mengadakan pengamatan. Bahkan sering dikatakan bahwa pekembangan setiap aspek kejiwaan anak pada masa ini sangat didominasi oleh pengamatannya.
Pada masa-masa ini, sebaiknya kita mengadakan bimbingan dan pembinaan fungsi dari indera, yaitu untuk mengetahui kelebihan apa yang dimiliki anak didik berdasar pada perkembangan pengamatannya. Maka hendaknya melatih anak didiknya, misalnya, telinga digunakan untuk mendengarkan kalam-kalam Allah, mata digunakan untuk muthola'ah dan munadhoroh (untuk studi dan meneliti), mulut kita gunakan untuk bertasbih dan berdzikir pada Allah, dan seterusnya.
3.      Tahapan perkembangan masa pre-adolesen (12-15 tahun)
Pada tahap ini, perkembangan fungsi penalaran intelektual pada anak sangat dominan. Dengan adanya pertumbuhan sistem syaraf serta fungsi pikir, maka anak mulai kritis dalam menanggapi suatu ide atau pengetahuan dari orang lain.
4.      Tahapan perkembangan masa adolesen (15-20 tahun)
Dalam tahap perkembangan yang keempat ini, kualitas kehidupan manusia diwarnai oleh dorongan seksual yang kuat. Masa­masa seperti inilah yang dalam bahasa Al-Qur'an disebut masa "zinah” (masa berhias). Karena pada masa ini seseorang mulai tertarik kepada orang yang berlainan jenis.
5.      Masa pematangan diri (setelah umur 20 tahun)
Dalam tahap ini, perkembangan fungsi kehendak mulai dominan. Orang mulai dapat membedakan adanya tiga macam tujuan hidup pribadi, yaitu pemuasan keinginan pribadi, pemuasan keinginan kelompok, pemuasan keinginan masyarakat. Semua itu, akan direalisasikan oleh individu tersebut dengan belajar mengandalkan kehendaknya.
Di bawah ini akan diuraikan tentang perkembangan pribadi secara luas dari berbagai pendapat. Pentahapan perkembangan itu -sebagai berikut :
1)      Tahap kematangan pre-natal (antara umur 2,5 bulan s/d 9 bulan)
2)      Tahap perkembangan vital (sejak lahir – umur 2 tahun)
a.       Perkembangan motorik
b.      Perkembangan psikologid
c.       Prkembangan fungsi-fungsi sosial
3)      Tahap perkembangan ingatan (umur 2 s/d 3 tahun)
4)      Tahap perkembangan ke-aku-an (umur 3 s/d 4 tahun)
5)      Tahap perkembangan pengamatan (umur 4 s/d 6 tahun)
6)      Tahap perkembangan intelektual (umur 6-12 tahun atau 7-13 tahun)
7)      Tahap perkembangan pra remaja (umur 13 s/d 16 tahun)
8)      Tahap perkembangan remaja (antara umur 16-20 tahun)


DAFTAR PUSTAKA


 Al-Hamid Zaih Husen. 1987. Pendidikan Anak Menurut Islam, Jakarta. Pustaka Alami
Gunarsa, Singgih D (ed), 1983. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Jakarta : BPK Gunung Mulia
Ishom Achmadi ZE, Moch., Drs., Kaifa Nurabbi Abnaa’anaa

Senin, 23 Juli 2012

Klasifikasi Hadits

0 comments
BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Orang yang melakukan studi secara kritis akan mengetahui bahwa asas serta prisip-prinsi pokok ulumul hadits (kaidah-kaidah menerima dan menyampaikan hadits) itu benar-benar terdapat dalam kitab al qur’an yang mulia, serta terdapat dalam sunah nabawiah, Alloh berfirman: wahai orang-orang yang beriman, jika dating orang fasik dengan mambawa suatu berita kepada kalian, maka hendaklah kalian menelitinya dalam aha melaksanakan perintah Alloh dan RasulNya, maka para sahabat telah menetapkan ketentuan-ketentuan dalam menyampaikan suatu berita sekaligus dalam hal enerimanya, terutama ketika meragukan tehadap kejujuran orang yang yang menympaikan berita tersebut. Atas dasar ini, maka nampak jelaslah kedudukan serta nilai sanad dalam rangka untuk menerima atau menolak suatu berita. Sehubungan dengan berkembangnya zaman banyak macam-macam hadits yang kita dapati saat ini, di setiap hadits itupun terdapat penjelasan dan hokum yang berbeda, dari situlah penulis ingin memaparkan secara singkat mengenai kehashohian,  hasan, kedloifan dan kemaudlhu’an hadits.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengkalasifikasian hadits dan sanad berdasarkan konteks maqbul dan mardudnya?
2.      Bagaimana ciri keshohian hadits itu?
3.      Bagaimana kedudukan sebuah hadits itu?

1.3  Tujuan
1. Untuk mengetahui lebih sistematis tentang pengkalasifikasian hadits dan sanad berdasarkan konteks maqbul dan mardudnya
2. Untuk mengetahui kehashohian, hasan, kedloifan dan kemaudlhu’an            hadits.
3. Untuk mengetahui kualitas hadits.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Klasifikasi  hadits ditinjau dari segi kualitas (maqbul dan mardud.)[1]
Hadits maqbul : hadits yang diterima sebagai hujjah atau dalil serta dapat dijadikan sebagai landasan hukum. Para ulama’ membagi hadits maqbul menjadi dua bagian pokok : Shohih dan hasan. Masing-masing dari keduanya terbagi menjadi dua bagian, lidzati dan lighoirihi, kemudian untuk yang maqbul secara tuntas terbagi menjadi empat:
1.      Shohih lidzati
2.      Shohih ligoirihi
3.      Hasan lidzati
4.      Hasan lighoirihi 

2.2  Hadits Shohih[2]
A.    Definisi
1.      Imam al Atsqolani
Hadits shohih adalah hadits yang bersambung sanadnya, diriwayatkan dan diterima dari perowi yang adil lagi dlobit serta terhindar dari kejanggalan-kejanggalan dan ilat.
2.      Definisi Abu  Amr Ibn ash-Sholah
Abu Amr Ibn ash-Sholah mengatakan:


Hadits shohih adalah musnad yang sanadnya muttasil melalui periwayatan orang yang adil lagi dhabit dari orang yang adil lagi dhobit(pula) sampai ujungnya, tidak syadz dan tidak mualal(terkena ilat)
3.      Definisi imam Nawawi, imam Nawawi meringkas definisi Ibnu ash-sholah. Beliau mengatakan:
Hadits shohih adalah hadits yang muttasil sanadnya melalui (periwayatan) tentang orang adil lagi dhobit tanpa syadz dan ilat.
            Yang dimaksud orang-orang adil lagi dhobit adalah para perowi dalam sanad itu yakni diriwayatkan oleh perowi yang adil lagi dhobit dari perowi yang adil lagi dhobit (pula) dari awal sampai akhirnya.
Secara singkat hadits shohih harus memenuhi lima syarat:
a)      Muttasil sanadnya. Dengan syarat ini, dikecualikan hadits mungqati’, mu’dhal, mu’alaq, muddalas dan jenis-jenis lain yang tidak memenuhi kriteria muttasil ini.
b)      Perowi-perowinya adil. Yang dimaksud adil adalah orang yang lurus agamanya, baik pekertinya, dan bebas dari kefasikan serta bebas dari hal-hal yang menjatuhkan muru’ahnya.
c)      Perowi-perowinya dhobit. Yang dimaksud dhobit adalah orang yang benar-benar sadar ketika menerima hadits, paham ketika mendengarnya, dan menghafalnya sejak menerima sampai menyampaikannya. Yakni perowi harus hafal dan mengerti apa yag harus diriwayatkannya(bila dia meriwayatkan dari hafalannya) serta memahaminya(bila meriwayatkannya secara ma’na). Serta harus menjaga tulisannya dari perubahan, penggantian ataupun penambahan, bila dai meriwayatkan dari tulisannya. Syarat ini pengecualian periwayatan perowi yang pelupa dan sering melakukan kesalahan.
d)      Yang diriwayatkan tidak syadz. Syadz adalah penyimpangan oleh perowi tsiqat terhadap orang yang lebih kuat darinya.
e)      Yang diriwayatkan terhindar dari ilat qodhihah(ilat yang mencacatkannya), seperti yang memursalkan yang maushul, memutasilakan yang mungqoti’ ataupun memarfu’kan yang mauquf ataupun yang sejenis.

Jadi diambil kesimpulan bahwa hadits shohih adalah hadits yang muttasil sanadnya melalui periwayatan tsiqat dari perowi(lain) yang tsiqat pula sejak awal sejak awal sampai akhir tanpa syadz dan tanpa ilat.
            Contoh :ما اخرجه البخري في صحىحه قا ل:حدثنا عبد الله ابن يسف قال اخبرنا مالك ابني شهاب عن محمد ابن جبيربن مطعم عن ابيه قال سمعت رسول الله  ص م "قراء في المغرب بالطور"

2.3  Pembagian hadits shohih[3]
Hadits shohih terbagi menjadi 2: shohih li dzatihi dan shohih li ghoirihi.
v  Shohih li dzati adalah hadits yang sanadnya bersambung-sambung, diriwayatkan oleh orang yang adil, sempurna hafalannya dari orang sekualitas dengannya hingga akhir sanad, tidak janggal dan tidak mengandung sanad.
Contoh hadits shohih lidzati adalah:
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam al Bukhori dan muslim, dari jalur al a’raj, dari Abu Huroiroh r.a, sesunguhnya Rasulullah SAW. bersabda:
لولا ان اشق على امتي لا امرتهم بالسواق عند كل صلاة
Seandainya aku tidak khawatir memberatkan umatku pasti aku memerintahkan mereka agar bersiwak setiap kali handak mengerjakan sholat.
v  Sedangkan hadits shohih li ghoirihi adalah hadits yang keshohiannya dibantu oleh adanya keterangan lain. Hadits kategori ini pada mulanya, memiliki kelemahan pada aspek kedlobitan dan perowinya(qolil adha-dlobith). Diantara perowinya ada yang kurang sempurna kedlobitannya, sehingga dianggap tidak memenuhi syarat untuk dikategorikan sebagai hadits shohi. Baginy semula hanya sampai pada derajat atau kategori hadits hasan li dzati.[4]

2.4  Kehujahan Hadits Shohih
Para ulama’ sependapat bahwa hadits ahad yang shohih dapat dijadikan hujjah untuk menetapkan syariat Islam. Namun mereka berbeda pendapat, apabila hadits kategori ini dijadikan hujjah, untuk menetapkan soal-soal aqidah.
Perbedaan ini mengarah pada penilaian tentang faidah yang diperoleh dari hadits ahad dan shohih, apakah hadits ini memberi faidah qoth’i atau dzonni?
§  Ulama’ yang menganggap hadits seperti itu(ahad dan shohih)adalah memberi faidah qoth’i jadi bisa dijadikan hujjah untuk menetapkan masalah-masalah akidah. Sebagaimana hadits mutawatir.
§  pendapat lain hanya menganggap memberi faidah dzonni, berarti hadits-hadits tersebut tidak dapat dijadikan hijjah untuk menetapkan soal akidah.
·         Para ulama’ dalam hal ini berpendapat bahwa hadits shohih tidak memberikan faidah qoth’i sehingga tidak bisa dijakan hujjah untuk menetapkan soal akidah.
·         Sebagian ahli hadits, sebagaimana dikatakan imam An Nawawi, memandang bahwa hadits-haduts shohih riwayat Al Bukhori dan Muslim memberikan faidah qoth’i
·         Sebagian ulama’ lainnya, Ibni Hazn, bahwa semua hadits shohih memberikan faidah qoth’i, tanpa dibedakan apakah diriwayatkan oleh kedua ulama’ di atas atau bukan. Menurut Ibnu Hazn, tidak ada keterangan atau alasan yang harus membedakan hal ini berdasarkan siapa yang meriwayatkannya. Semua hadits, jika memenuhi syarat keshohihannya, adalah sama dalam memberikan faidahya.

2.5  Hadits Hassan dan permasalahannya[5]
1.      Latar belakang munculnya istilah Hadits Hassan
Pada mulanya Hadits itu terbagi kepada Shohih dan Dha’if. Yang shohih, yaitu memenuhi kriteria maqbul, dan yang dho’if, yang tidak memenuhi kriteria itu, atau dengan kata lain yang memenuhi kriteria mardud.
Diantara para ulama’ ada yang menemukan adanya kriteria yag kurang sempurna dalam kedhobitannya. Artinya, terdapat para perowi yang kualitas hafalannya dibawah para perowi yang shohih akan tetapi diatas para perowi yang dho’if dengan kata lain, tingkat kedhobitannya menengah antara yang shohih dan yang dho’if padahal, pada kriteria-kriteria lainnya terpenuhi dengan baik atau sempurna,
  Untuk itu kedudukan para perowi yang memilii kualitas hafalannya menengah tertampung disini, tidak dimasukkan dalam kelompok shohih juga tidak pada kelompok dho’if. Mereka menduduki posisi apa adanya, dengan memiliki sebutan tersendiri dan kemampuannya dihargai.

2.6  Definisi Hadits Hasan[6]
Hadits hasan adalah hadits yang mutasil sanadnya yang diriwayatkan oleh perowi hadits yang adil yang lebih rendah kedlobitannya tanpa syadz dan tanpa illat.
Dari sini jelaslah perbedaan antara hadits shohih dan hadis hasan, yaitu bahwa dalam hadits shohih disyaratkan dlobit yang sempurna, sedang dalam hadits hasan disyaratkan dlobit dasar.
Contoh:   ما اخرجه الترمذيحدثنا قتيبة حدثنا جعفر بن سليما ن الضبعي عن ابي عمران الجونى عن ابي بكر بن ابي موسي العشعري قال : سمعت ابي بحضرة العدو يقول: قال رسول ص م : ان ابواب الجنت تحت ظلال السيوف الحديث     ما اخرجه الترمذي قال

2.7  Jenis-jenis Hadits Hasan[7]
Hadits hasan ada dua:
v  Hasan lidzati adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang yang adil, yang kurang kuat ingatannya, bersambung-sambung sanadnya, tidak mengandung cacat dan tidak ada kejanggalan.
Contoh : hadits yang diriwayatkan oleh Atturmudzi, dari jalur Muhammad bin Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Huroiroh r.a, sesungguhnya Rasulullah SAW.bersabda:
لولا ان اشق على امتي لا امرتهم بالسواق عند كل صلاة
Dalam sanad hadits riwayat imam At Turmudzi tersebut terdapat rowi bernama Muhammad bin Amr. Menurut ulama’ ahli hadits, dia dinilai kurang kuat hafalannya.
v  Hadits hasan lighirihi adalah hadits yang sanadnya tidak sepi dari seorang yang tidak jelas perilakunya atau orang yang kurang baik hafalannya dan lain-lainnya.
Hadist hasan lighoirihi ini harus memenuhi tiga syarat:
1.      Bukan pelupa yang banyak salahnya dalam hadits yang diriwayatkan.
2.      Tidak tampak ada kefasikan pada diri perowinya.
3.      Hadits yang diriwayatkan benar-benar telah dikenal luas, karena ada periwayatan yang serupa dengannya atau semakna yang diriwayatkan dari satu jalur atau lebih.
Contoh: hadist yang diriwayatkan oleh At Turmudzi dan dihasankan melalui jalan Su’bah dari A’syim bin Ubaidillah dari Abdulloh bin Amir bin Robiah dari bapaknya bahwa seorang perempuan dari bani fazaroh dinikahi dengan dua sandal, maka Rasulullah bersabda padanya:
  Apakah kamu ridlo dari dirimu dan hartamu dengan dua sandal? Maka ia menjawab” ya “lal beliau membolehkannya. At Tirmidzi berkata dalam bab tersebut terdapat jalan lain dari Umar dari Abu Hurairah dari Abi Hadrad ”sementara A’syim adalah dlo’if” karena jelek hafalannya, tapi At Tirmidzi menghasankan hadist ini karena kedatangannya dari arah yang lainnya[8].

2.8  Hadits Dlo’if dan permasalahannya[9]
1.      Pengertian hadits dlo’if secara etimologi berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qowy sebagai lawan dari shohih, kata dlo’if juga berarti saqim(yang sakit) maka sebutan hadist dlo’if secara etimologi berarti hadist yang lemah, yang sakit, atau yang tidak kuat.
2.      Secara terminologi, para ulama’ mendifisikannya dengan redaksi yang berbeda-beda akan tetapi, pada dasarnya mengandung maksud yang sama. Beberapa definisi diantaranya:
·         Imam Nawawi : bahwa hadist yang didalamnya tidak terdapat syarat-syarat hadits shohih dan syarat-syarat hadits hasan yang lain menyebutkan bahwa hadist dho’if ialah segala hadits yang didalamnya tidak berkumpul sifat-sifat maqbul.
3.      Definisi yang disebut kedua ini sama dengan definisi yang menyebutkan, sebagai berikut, hadits yang didalamnya tidak terkumpul hadist-hsdist shohih dan hasan.

2.9  Pembagian hadits dlo’if
v  Hadits dlo’if dari sudut sandaran matannya bahwa hadits ini dilihat dari sudut sandarannya terbagi kepada tiga yaitu:
1.      Hadits mauquf, secara bahasa adalah yang dihentikan atau ang diwakafkan. Maka hadits mauquf dalm pengertian ini, berarti hadits yang dihentikan
Secara istilah adalah hadits yang diriwayatkan dari para shohabat berupa perkataan, perbuatan, atau taqrirnya.
2.      Hadits maqthu’ menurut bahasa berarti yang dipotong ya’ni dipotong sandarannya hanya pada tabiin. Menurut istilah hadits yang diriwayatkan dari tabiin, berupa perkataan, perbuatan atau taqrirnya.
3.      Hadits maqlub, menurut bahasa diputar balikkan atau ditukarkan tempatnya. Menurut istilah mandahulukan (menta’dimkan) kata kalimat, atau nama yang seharusnya ditulis dibelakang, dan mengakhirkan(menta’hirkan)kata, kalimat, atau nama yang seharusnya didahulukan.[10]

2.10          Hadits maudzu’[11]
Hadits maudlu’ secara etimologi adalah isim maf’ul dari kata kerja dalam kalimat wadla’asy-syi’a artinya” menurunkannya, disebut demikian karena turun tingkatannya”.
Menurut terminolagi adalah kedustaan yang diciptakan lagi dibuat-buat lalu dinisbatkan pada Rasululloh.

Hadits maudzu’ ialah hadits yng paling jelek dan paling buruknya dari sekian hadits banyaknya hadits dzoif, dan sebagian ulama’ ada yang menyatakan sebagai suatu bagian yang terpisah dan bukan merupakan salah satu  cabang hadits-hadits dzo’if. Para ulama’ sepakat menyatakan tidak halal meriwayatkan hadits dzo’if bagi seoarang yang telah mengetahui keadaannya dalam arti apapun, kecuali bila disertai menjelaskan kedzo’ifannya. Berdasarkan hadits muslim: barang siapa menceritakan suatu hadits dariku sementara diketahui dia adalah diketahui bahwa dia adalah dusta maka dia adalah salah satu dari para pendusta.

  
BAB III
PENUTUP

3.1  KESIMPULAN
v  Klasifikasi  hadits ditinjau dari segi kualitas (maqbul dan mardud.)
Hadits maqbul : hadits yang diterima sebagai hujjah atau dalil serta dapat dijadikan sebagai landasan hukum.
·         Para ulama’ membagi hadits maqbul menjadi dua bagian pokok : Shohih dan hasan. Masing-masing dari keduanya terbagi menjadi dua bagian, lidzati dan lighoirihi, kemudian untuk yang maqbul secara tuntas terbagi menjadi empat:
1.      Shohih lidzati
2.      Shohih ligoirihi
3.      Hasan lidzati
4.      Hasan lighoirihi 
Hadits shohih adalah hadits yang muttasil sanadnya melalui (periwayatan) tentang orang adil lagi dhobit tanpa syadz dan ilat.
·         Secara singkat hadits shohih harus memenuhi lima syarat:
1.      Muttasil sanadnya.
2.      Perowi-perowinya adil.
3.      Perowi-perrowinya dzobith
4.      Yang diriwayatkan tidak syadz
5.      Yang diriwayatkan terhindar dari ilat qodhihah(ilat yang mencacatkannya)
·         Hadits hasan adalah hadits yang mutasil sanadnya yang diriwayatkan oleh perowi hadits yang adil yang lebih rendah kedlobitannya tanpa syadz dan tanpa illat.
v  Pengertian hadits dlo’if secara etimologi berarti yang lemah, sebagai lawan kata dari qowy sebagai lawan dari shohih, kata dlo’if juga berarti saqim(yang sakit) maka sebutan hadist dlo’if secara etimologi berarti hadist yang lemah, yang sakit, atau yang tidak kuat.
Secara terminologi, para ulama’ mendifisikannya dengan redaksi yang berbeda-beda akan tetapi, pada dasarnya mengandung maksud yang sama. Beberapa definisi diantaranya:
§  Imam Nawawi : bahwa hadist yang didalamnya tidak terdapat syarat-syarat hadits shohih dan syarat-syarat hadits hasan yang lain menyebutkan bahwa hadist dho’if ialah segala hadits yang didalamnya tidak berkumpul sifat-sifat maqbul.
v  Pembagian hadits dlo’if dari sudut sandaran matannya bahwa hadits ini dilihat dari sudut sandarannya terbagi kepada tiga yaitu:
1.      Hadits mauquf
2.      Hadits maqtu’
3.      Hadits maqlub
v  Hadits maudlu’ secara etimologi adalah isim maf’ul dari kata kerja dalam kalimat wadla’asy-syi’a artinya” menurunkannya, disebut demikian karena turun tingkatannya”.
Menurut terminolagi adalah kedustaan yang diciptakan lagi dibuat-buat lalu dinisbatkan pada Rasululloh.

3.2  SARAN DAN KRITIK
 Orang yang melakukan studi secara kritis akan mengetahui bahwa asas serta prinsip-prinsip pokok ulumul hadits (kaidah-kaidah menerima danmenyampaikan hadits) itu benar-benar terdapat dalam kitab al-qur’an dan as-sunnah. Jadi sudah jelaslah bahwa ketentuan mengenai pengambilan suatu berita sekaligus cara malakukan tabayyun (memperjelas) serta menelitinya dan agar hati-hati dalam menyampaikan pada orang lain. Maka dalam rangka usaha melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya itu, hendaklah kita harus hati-hati untuk menerapkannya, karena banyak sekali pemalsuan hadits-hadits saat ini. Wallahu ‘Alam bissoab.  



DAFTAR PUSTAKA



Dr. Mahmud Tohhan,  Ulumul Hadits, 
Dr. Utang Ranuwijaya, MA. Ulumul Hadits.
Hafidz Hasan Al-Mas’udi, Minhatul Mughits,
Ajaj al-Khathib, Ushul
Dr. Mahmud Tohhan,  Ulumul Hadits


[1]Dr. Mahmud Tohhan,  Ulumul hadits,  hal: 41
[2] Dr. Utang Ranuwijaya, MA. Ulumul Hadits. Hal:155-164
[3] Hafidz Hasan Al-Mas’udi, minhatul mughits, hal:11
[4] Dr. Utang Ranuwijaya, MA. Ulumul Hadits.op.cit, hal: 166-167
[5] Ibid hal: 168
[6] Ajaj al-Khathib, Ushul, hal:299
[7] Hafidz Hasan Al-Mas’udi, minhatul mughits, op.cit. hal:13-15
[8] Dr. Mahmud Tohhan,  Ulumul hadits, hal:57-58
[9] Dr. Utang Ranuwijaya, MA. Ulumul Hadits, hal:176-178
[10] Ibid, hal:181
[11] Dr. Mahmud Tohhan,  Ulumul hadits, op.cit,  hal:88-92
 
Copyright © DOKUMENQU | Theme by BloggerThemes & simplywp | Sponsored by BB Blogging