Minggu, 11 September 2011

Konsep Teori Luka

Konsep Teori Luka

A.    Pengertian Luka


Luka adalah kerusakan anatomi, diskontinuitas suatu jaringan oleh karena trauma dari luar.(Djohansyah Marzoeki, 1991).

Macam-macam luka :

1)      Luka terbuka : bila kulit rusak melampaui tebalnya kulit.

2)      Luka tertutup : luka tidak melampaui tebalnya kulit.

B.     Proses Penyembuhan Luka


Beberapa teori proses penyembuhan luka adalah sebagai berikut  :

Menurut Kozier (1995) : Penyembuhan merupakan suatu sifat dari jaringan-jaringan yang hidup; hal ini juga diartikan sebagai pembentukan kembali (pembaharuan) dari jaringan-jaringan tersebut. Penyembuhan dapat dibagi dalam tiga fase: peradangan, proliferatif, dan maturasi (bernanah luka). Proses penyembuhan untuk luka akibat operasi akan dijelaskan di bawah ini.

1)     Fase Peradangan

Fase peradangan akan segera dimulai setelah terjadinya luka dan akan berlangsung selama 3 sampai 4 hari. Ada dua proses utama yang terjadi selama fase peradangan ini : hemostatis dan phagositosis.

Hemostatis (penghentian pendarahan) diakibatkan oleh vasokontriksi dari pembuluh darah yang lebih besar pada area yang terpengaruh, penarikan kembali dari pembuluh-pembuluh darah yang luka, deposisi/endapan dari fibrin (jaringan penghubung), dan pembentukan  gumpalan beku darah pada area tersebut. Gumpalan beku darah, terbentuk dari platelet darah (piringan kecil tanpa warna dari protoplasma yang ditemukan pada darah), menetapkan matriks dari fibrin yang akan menjadi kerangka kerja untuk perbaikan sel-sel. Suatu keropong juga terbentuk pda permukaan luka. Yang terdiri dari gumpalan-gumpalanm serta jaringan-jaringan yang mati. Keroppeng berguna untuk membantu hemostasis dan mencegah terjadinya kontaminasi pada luka oleh mikroorganisme. Di bawah keropeng, sel-sel epithelial bermigrasi ke dalam luka melalui pinggiran luka. Sel-sel epithelial sebagai penghalang antara tubuh dengan lingkungan, mencegah masuknya mikroorganisme.

Fase peradangan juga melibatkan respon-respon seluler dan vaskuler yang dimaksudkan untuk menghilangkan setiap substansi-substansi asing serta jaringan-jaringan yang mati. Aliran darah ke luka meningkat, membawa serta substansi serta nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan dalam proses penyembuhan. Sebagai hasilnya luka akan terlihat memerah dan bengkak.

Selama migrasi sel, leukosit (khususnya netrophil) akan masuk ke dalam ruang interstitial. Kemudian akan digantikan makrofag selama 24 jam setelah luka, yang muncul dari monosit darah. Makrofag akan menelan puing-puing selular dan mikroorganisme dengan suatu proses yang dikenal sebagai phagositosis. Makrofag juga mengeluarkan suatu faktor angigenesis (AGF), yang merangsang pembentukan dari pucuk-puck epithelial pda ujung pembuluh darah yang mengalami luka. Jaringan kerja microcirculatory yang dihsilkan akan menopang proses penyembuhan luka. Saat ini makrofag dan AGF dipertimbangkan sebagai hal yang penting pada proses penyembuhan (Cooper 1990a,p. 171). Respon terhadap peradangan ini sangat penting terhadap proses penyembuhan, dan mengukur bahwa penghalangan pada peradangan, seperti pengobatan dengan steroid, dapat menggantikan proses penyembuhan yang mengandung resiko. Selama tahapan ini pula, terbentuk suatu dinding tipis dari sel-sel epithelial di sepanjang luka.

2)     Fase Proliferasi

Fase proliferatif (tahapan pertumbuhan sel dengan cepat), fase kedua dalam prose penyembuhan, memerlukan waktu  3 – hari sampai sekitar 21 hari setelah terjadinya luka. Fibroblast (sel-sel jaringan penghubung), yang mulai bermigrasi ke dalam luka sekitar 24 jam setelah terjadinya luka, mulai mengumpulkan dan menjdikansatu kolagen dan suatu substansi dasar yang disebut proteoglycan sekitar 5 hari setelah terjadinya luka. Kolagen merupakan suatu substansi protein yang berwarna keputih-putihan  yang menambah daya rentang pada luka. Sat jumlah kolagen meningkat, maka daya rentang luka juga kan meningkat; oleh karena itu peluang bahwa luka akan semakin terbuka menjadi semakin menurun. Selama waktu tersebut, muncullah apa yang disebut sebagai pungung bukit penyembuhan” di bawah garis jahitan luka yang lengkap. Pada luka yang tidak dijahit, kolagen baru seringkali muncul. Pembuluh-pembukuh kapiler tumbuh disepanjang luka, meningkatkan aliran darah, yang juga membawa serta oksigen dan nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan dalam proses penyembuhan. Fibroblast akan bergerak dari aliran darah ke dalam wilayah luka, mengendapkan fibrin. Saat jaringan pembuluh kapiler berkembang, jaringan menjadi suatu benuk tembus cahaya yang berwarna kemerah-merahan. Jarinag tersebut, disebut sebagai jaringan granulsi, yang meudah pecah dan mudah mengalami pendarahan.

Saat sisi kulit dari luka tidak dijahit, wilayah luka tersebut harus ditutup dengan jaringan-jaringan granulasi. Saat jaringan granulasi matang, sel-sel epithelial marginal akan bermigrasi ke dalamnya, pertumbuhan sel yang cepat di sepanjang jaringan penghubung ini dipusatkan untuk menutp wilayah luka. Jika wilayah luka tidak tertutup oleh epithelisasi, wilayah luka tersebut akan ditutup dengan protein plasma yang mengering serta sel-sel yang telah mati. Hal ini disebut eschar. Pada awalnya, luka yang disembuhkan dengan tujuan sekunder merembes ke pengeringan serosanguineous. Kemudian jika tidak ditutup oleh sel-sel epithelial, maka akan ditup dengan jaringan-jaringan fibrinous yang berwarna abu-abu dan berukuran tebal yang pada akhirnya berubah menjadi jaringan bekas luka yang padat yang tebal.

3)     Fase Maturasi

Biasanya dimulai pada hari ke-21 dan muncul setengah tahun setelah perlukaan. Pembentukan fibroblas dilanjutkan dengan sintesis kolagen. Serabut kolagen yang merupakan serabut penting dalam ........ digabungkan ke dalam struktur yang lebih lengkap. Scar menjadi tipis, jaringan elastis berkurang, timbul garis putih.

Tahap penyembuhan luka menurut Perry Potter, 1998 adalah :

1)     Tahap Defensif (Inflammatory)

Dimulai ketika integritas kulit terganggu dan berlanjut terus selama 4 hingga 6 hari.

a) Hemostasis : Pembuluh darah berkontriksi, menyusun platelet untuk menghentikan pendarahan. Gumpalan membentuk mtrik fibrin. Bentuk scab, mencegah masuknya organisme yang mengakibatkan infeksi.

b)  Respon inflamatory : meningkatkan aliran darah ke luka dan permeabilitas vaskuler ke plasma mengakibatkan terlokalisirnya kemerahan dan edema.

c)  Sel darah putih sampai ke luka : Neutrophil mengakibatkan bakteri dan debris yang kecil, kemudian mati dalam beberapa hari dan membiarkan eksudasi enzim, yang kemudian menyerang bakteri atau bercampur dengan perbaikan jaringan. Monosi menjadi makrofag. Makrofag membersihkan sel debris melalui phagositosis, membantu perbaikan luka melalui perubahan asam amino dan gula normal.

d)  Sel epitel bergerak dari batas luka ke dasar gumpalan atau scab (kira-kira selama periode 48 jam).

2)     Tahap Rekonstruksi (Proliperatif)

a) Penutupan mulai pada hari ke-3 atau ke-4 dari tahapan defensif dan berlanjut terus selama 2 hingga 3 minggu.

b)  Fibroblast berfungsi membantu vitamin B dan oksigen serta asam amino mensintesis kolagen.

c)   Kolagen memberikan penguatan dan integritas struktural pada luka

d) Sel epitel memisahkan hingga menduplikasikan sel yang berbahaya (misalnya sel mukosal intestinal yang membantu munculnya columnar).

3)     Tahap Maturasi

Tahap penyembuhan terakhir mungkin berlanjut terus selama 1 tahun atau lebih hingga memperkuat jaringan kolagen.

Fase-fase penyembuhan luka menurut Taylor, at.al, 1997 :

Suatu luka pada jaringan berasal dari dua respon utama-respon tekanan dan respon inflammatory. Semua luka mengikuti fase yang sama dalam penyembuhan, meskipun berbeda waktu yang diperlukan pada masing-masing fase dalam proses penyembuhan dan dalam perluasan jaringan granulasi yang terbentuk. Fase-fase pada luka dijelaskan menurut kejadiannya dalam luka bedah.

1)      Fase Inflamatory

Dimulai dengan melakukan pengirisan untuk pembedahan dan berakhir hingga hari ketiga atau keempat setelah operasi. Dua akktifitas fisiologik utama adalah hemostatis dan phagocytosis. Respon inflamatory terjadi segera dan mempersiapkan jaringan untuk penyembuhan.

Seperti tekanan utama, luka mengakibatkan sindroma adaptasi lokal. Sebagai hasilnya, pertama adalah terjadi kontriksi yang singkat dan segera pada pembuluh darah, yang mengakibatkan pembekuan darah untuk menutupi luka. Hal ini diikiuti oleh vasodilatasi,memberikan peningkatan aliran darah pada area, yang membatasi sel darah putih (leukosit) menyerbu area luka dan menghilangkan bakteri dan debris. Sekitar 24 jam setelah luka, sebagian besar sel phagocytik (makrofag) memasukia area dan mengeluarkan suatu faktor angiogenesis yang menstimulasikan formasi epitel di akhir pembuluh yang cedera sehingga reanastomis dapat terjadi.

Selama fase inflamatory, pasien mempunyai respon tubuh, yang meliputi temperatur meningkat secara perlahan, leukositosis dan mengakibatkan rasa demam.

2)      Fase Proliferasi

Fase proliferasi dimulai pada hari ketiga atau keempat dan berakhir pada hari ke-21. Fibroblast mensintesis kolagen dan substansi dasar dengan cepat. Dua substansi tersebut membentuk tempat untuk perbaikan akhir pada luka. Lapisan yang tipis pada sel epitelial terbentu melewati luka selama fase inflamatory, kapilaris sekarang tumbuh melewati luka. Revaskularisasi ini membawa oksigen dan nutrisi yang diperlukan untuk penyembuhan selanjutnya. Fibroblast juga bergerak dari aliran darah melalui luka, mendepositkan fibrin yang melebar hingga gumpalan. Lapisan yang tipis pada sel epitel melewati luka dan aliran darah yang melewati luka terbentuk lagi. Jaringan baru, disebut jaringan granulasi, adalah vaskuler dan sangat kemerah-merahan serta serta mudah berdarah.

Gejala sistemik seharusnya tidak ada dan pasien terlihat dan merasa lebih baik. Selama fase ini, nutrisi dan oksigenasi adekuat mencegah peregangan pada garis jahitan dengan baik sehingga penting untuk pertimbangan perawatan pasien.

3)      Fase Maturasi

Tahap akhir dari penyembuhan mulai pada hari ke-21 dan terus berlanjut selama 1 hingga 2 tahun setelah cedera. Kolagen yang menumpuk secara sembarangan pada luka dibentuk lagi, membuat penyembuhan luka lebih kuat dan lebih mirip dengan jaringan yang berbatasan. Kolagen baru teru ditumpuk, yang menekan pembuluh darah dalam penyembuhan, sehingga bekas luka menjadi rata, tipis, bergaris putih. Bekas luka ini merupakan jaringan kolagen avaskular yang tidak lengket, tumbuh rambut, atau berwarna coklat dalam pans matahari.

Tahap penyembuhan luka menurut Djohansyah Marzuki, 1991 :

1)      Fase I : Lag phase (fase excudasi/fase inflamasi).

Fase yang berjalan lambat, hanya terjadi proses persiapan. Terjadinya perlekatan tepi luka pada fase ini hanya oleh karena adanya fibrin yang bertindak sebagai lem atau bila dijahit, karena jahitannya.  Fase ini berjalan 4 – 5 hari lamanya.

2)      Fase II (Fase Collagen/fase regenerasi/fase produktif.

Terjadi pembuluh darah baru dan fibroblast (jaringan ikat baru), kedua-duanya membentuk jaringan granulasi yang berwarna merah dan mudah berdarah.

3)      Fase Maturasi (Fase Kontraksi)

Kontraksi sudah mulai pada fase II, berjalan terus sampai 1 tahun atau lebih. Sesudah 3 minggu sampai 3 bulan. Cicatrik akan merah dan keras sebagai Hypertropic Scar (Parut Hipertropi), lalu pelan-pelan akan memucat dan lunak sampai sekitar 1 tahun. Ia akan menjadi garis putih. Serat collagen pada parut hipertropi arahnya teratur.



0 comments: