Tampilkan postingan dengan label teori umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teori umum. Tampilkan semua postingan

Selasa, 22 Juli 2014

Kajian Teori tentang Jasa

Kajian Teori tentang Jasa

A.    Pengertian Jasa

Menurut Andria Payne (2001:8), jasa merupakan suatu kegiatan yang memiliki beberapa unsur ketakberwujudan (ingtanbility) yang berhubungan dengannya, yang melibatkan beberapa intraksi dengan konsumen atau dengan properti dalam kepemilikannya, dan tidak menghasilkan transfer kepemilikan. Perubahan kondisi mungkin saja terjadi dan produksi jasa bisa saja berhubungan atau bisa pula tidak berkaitan dengan produk fisik.
Menurut pendapat Rambat Lupiyoadi (2006:6), jasa adalah : Semua aktivitas ekonomi yang hasilnya tidak berupa produk dalam bentuk fisik atau kontruksi, yang biasanya dikonsumsi pada saat yang sama dengan waktu yang dihasilkan dan memberikan nilai tambah (seperti misalnya kenyamanan, hiburan, kesenangan, kesehatan) atau pemecahan atas masalah yang dihadapi konsumen.
Jasa atau pelayanan merupakan suatu kinerja penampilan tidak berwujud dan cepat hilang, lebih dapat dirasakan daripada dimiliki, serta konsumen lebih dapat berpartisipasi aktif dalam proses mengkonsumsi jasa tersebut. Kondisi dan cepat lambatnya pertumbuhan jasa sangat bergantung pada penilaian pelanggan terhadap kinerja yang ditawarkan dan diberikan oleh pihak penyedia jasa, untuk menghasilkan kepuasan pelanggan.

B.     Karakteristik Jasa

Menurut Philip Kotler dan Kevin Lane Keller (2007:45) menyatakan bahwa terdapat empat karakteristik jasa yang berdampak pada desain pemasaran jasa, yaitu:
a.       Tidak berwujud (tangibility)
Sifat jasa yang tidak berwujud mengakibatkan suatu jasa tidak dapat mencium, melihat, mendengar, meraba dan merasakan hasilnya sebelum membelinya. Untuk mengurangi ketidakpastian tersebut konsumen akan mencoba mencari informasi tentang jasa tersebut, seperti lokasi perusahaan, rekam jejak kinerja perusahaan dan apa yang akan didapat dari perusahaan tersebut jika kita melakukan transaksi serta hal-hal lainnya,
b.      Tidak dapat dipisahkan ( inseparability)
Jasa umumnya diproduksi dan dikonsumsi pada saat bersamaan. Jika seseorang melakukan pembelian jasa, maka penyedia jasa tersebut merupakan bagian dari jasa. Karena konsumen selalu menunggu sampai jasa tersebut diproduksi, maka interaksi penyedia jasa dan konsumen merupakan cirri utama dari pemasaran jasa.
c.       Bervariasi (variabillity)
Jasa tergantung kepada siapa penyedia jasa tersebut dan kapan serta dimana jasa diproduksi, mengakibatkan jasa memiliki hasil yang berbeda – beda. Misalnya sebuah hotel yang sangat ramah melayani dan tanggap terhadap keluhan-keluhan tamunnya, sedangkan hotel yang lain tidak. Hal ini mengakibatkan pembeli jasa sangat berhatihati terhadap adanya perbedaan ini, sehingga seringkali meminta pendapat dari orang lain sebelum memilih suatu jasa.
d.      Tidak tahan lama (perishabillity)
Jasa tidak dapat disimpan. Karakteristik perishability ini tidak akan menjadi masalah jika permintaan tetap. Tetapi jika perusahaan berfluktuasi, maka perusahaan jasa mengalami masalah. Misalnya perusahaan transportasi harus menyediakan lebih banyak kendaraan selama jam-jam sibuk untuk memenuhi permintaan konsumen. Industri jasa sangat beragam, sehingga tidak mudah untuk menyamakan pemasarannya. Klasifikasi jasa dapat membantu memahami batasan-batasan dari industri jasa dan memanfaatkan pengalaman industri lain yang mempunyai masalah dan kharakteristik yang sama untuk diterapkan pada suatu bisnis jasa.
Menurut Grififfin dalam Rambat Lupioadi (2001:6), menyebutkan karakteristik jasa sebagai berikut:
a.  Intangibility tidak berwujud. Jasa tidak bias dilihat, dirasa, diraba, didengar atau di cium sebelum jasa itu dibeli. Nilai penting dari hal ini adalah nilai tak berwujud yang dialami konsumen dalam bentuk kenikmatan, kepuasan, atau kenyamanan
b.   Unstorability tidak dapat disimpan. Jasa tidak mengenal persediaan atau penyimpanan dari produk yang telah dihasilkan. Karakteristik ini juga di sebut inseparability tidak dapat dipisahkan, mengingat pada umumnya jasa dihasilkan dan dikonsumsi secara bersamaan.
c.  Customization kustomisasi. Jasa sering kali didesain khusus untuk memenuhi kebutuhan pelanggan

C.    Prilaku Konsumen Jasa

Fandi Tjiptono, dan Gregorius Chandra Tjiptono (2005:43) menyatakan bahwa perilaku konsumen jasa terdiri dari tiga tahap yaitu prapembelian, konsumsi, dan evaluasi purna beli. Tahap prapembelian mencakup semua aktivitas konsumen yang terjadi sebelum terjadi transaksi pembelian dan pemakaian jasa. Tahap ini meliputi tiga proses, yaitu identifikasi kebutuhan, pencarian informasi, dan evaluasi alternatif. Tahap konsumsi merupakan tahap proses keputusan konsumen, dimana konsumen membeli atau menggunakan produk atau jasa. Sedangkan tahap evaluasi purnabeli merupakan tahap proses pembuatan konsumen sewaktu konsumen menetukan apakah konsumen sudah telah melakukan keputusan pembelian yang tepat.

Read more

Selasa, 03 Januari 2012

Makalah Ilmu Kalam

BAB I

PENDAHULUAN

Sebagai produk pemikiran manusia wacana-wacana yang dihasilkan oleh aliran ilmu kalam. Seperti halnya pemikiran keislaman lainnya memiliki titik kelemahan dan perlu mendapat kritikan yang memadai dan konstruktif.

Secara garis besar, titik kelemahan ilmu jkalam yang menjadi sorotan para pengkritiknya berputar pada tiga aspek yakni aspek ontologi. Aspek epistimologi dan aspek aksiologi. Dimana aspek ontologi berkisar pada realita atau hakikat paradigma. Aspek epistimologi membahas dari mana dan bagaimana ilmu kalam itu. Sedangkan aspek aksiologi berkisar pada penilaian, penghargaan dan penghormatan. Yang banyak disorot adalah serta titik kelemahan yang banyak disorot adalah diskursus ketuhanan yang tidak menyentuh persoalan-persoalan riil manusia yang kurang mendapat perhatian dari ilmu kalam .



 BAB II

PEMBAHASAN

A.    Aspek Ontologi Ilmu Kalam

Aspek ontologi ini adalah membahas rentang realita dan hakekat atau standar paradigma, dimana harus diakui bahwa diskursus aliran-aliran kalam yang ada hanya berkisar pada persoalan-persoalan ketuhanan dan yang berkaitan dengan-Nya yang terkesan ”mengawang-ngawang” dan jauh dari persoalan kehidupan manusia. Kalaupun tetap dipertahankan bahwa diskursus aliran kalam juga menyentuh persoalan-persoalan kehidupan manusia. Persoalan itu adalah sesyau yang lampah yang nota bene berbeda dengan persoalan kehidupan manusia masa kini. Dengan demikian ilmu kalam tidak dapat diandalkan untuk memecahkan persoalan kehidupan pada masa kini.

Berangkat dari hal itu, Fazhur Rohman berupaya mereformasikan lagi hakekat ilmu kalam. Menurutnya : pertama Teologi haruslah dapat menumbuhkan moralitas atau sistem etika untuk membimbing dan menanamkan dalam diri manusia agar memiliki tanggung jawab moral (taqwa) yang memberi penuturan koheren dan setia dengan isi yang ada dalam al Qur’an. Kedua Teologi harus memiliki kegunaan dalam agama (fungsional) sejauh teologi tersebut dapat memberikan kedamaian intelektual dan spiritual bagi umat manusia serta dapat diajarkan pada umat.

Dalam perspektif perkembangan masyarakat modern dan postmodern Islam harus mampu meletakkan landasan pemecahan terhadap problem kemanusiaan (kemiskinan, ketidakadilan, hak asasi manusia, ketidakberdayaan perempuan, dan sebagainya). Teologi yang fungsional adalah teologi yang memenuhi panggilan tersebut, bersentuhan dan berdialog, sekaligus menunjukkan dalan keluar terhadap berbagai persoalan empirik kemanusiaan.

Konstruksi ilmu kalam ala Asy’ariyah, yaitu konsepsi mereka tentang hukum kausalitas. Sebagaimana diketahui oleh para peminat studi ilmu kalam Asy’ariyah, yang kemudian dikokohkan oleh Al-Ghazali bahwa kausalitas tidak cocok dengan realitas keilmuan yang berkembang dewasa ini. Pemikiran kausalitas kalan Asy’ariyah tidak kondusif untuk menumbuhkan etos kerja keilmuan, baik dalam wilayah ilmu-ilmu keagamaan maupun humaniora.
Read more

Dampak Siaran TV terhadap Anak Usia Dasar dan Cara Mengatasinya

BAB I

PENDHULUAN


A.    Latar Belakang

Televisi sebagai salah satu buah dari kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak memberi hiburan, informasi dan nuansa edukatif terhadap khalayak umum. Kecepatan dalam menyampaikan berita dan keefektifannya dalam menampilkan gambar membuat kita lebih nyaman dalam mengakses informasi.

Tapi juga tidak dapat dipungkiri dari sekian banyak kenyamanan yang telah terasa juga membawa ekses negatif terhadap pola kehidupan kita, terutama sekali pada pola perkembangan kehidupan anak-anak usia dasar. Selain pengaruh positif, pengaruh negatif pun juga tidak bisa terelakkan.

Implikisai negatif inilah yang terkadang luput dari pantauan orang tua. Meraka lebih mengedepankan prasangka-prasangka positifnya terhadap beberapa suguhan proram televisi sehingga membiarkan anak-anak bebas tanpa kontrol dalam menontonnya. Padahal kalau kita amati secara lebih serius banyak dari program televisi yang kurang mendidik atau bahkan memberi efek negatif terhadap perkembangan mental dan moral anak.

Seperti pernyataan Komisionir Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Don Basco Selamun bahwa hampir semua tayangan anak melanggar Pedoman Prilaku Penyiaran dan Standard Program Siaran P3-SPS. Bagi beliau tayangan televisi saat ini dianggap melanggar karena mengandung unsur kekerasan, mistik, pornografi, dan memberi contoh buruk pada perkembangan mental anak (Kompas, 4/5/08).

Tanpa terasa, banyak diantara orangtua yang tidak sadar bahwa beberapa program tersebut sangat berbahaya terhadap perkembangan mental anak. Sehingga dunia anak yang penuh dengan daya sensitifitas tinggi terhadap rangsangan-rangsangan luar, maka apabila waktu anak banyak diluangkan dengan tontonan kekerasan, pornografi dan hal-hal yang mistis, kejiwaan anak juga akan terbentuk layaknya program di televisi.

Kalau kita korelasikan realitas perkembangan anak di lapangan dengan pernyataan KPI, maka sungguh tayangan televisi telah membawa efek negatif. Pernyataan KPI tersebut tidak berdasarkan fakta saat ini saja, tapi pernyataan itu hasil dari kesimpulan selama 1,5 tahun. Dan selama itu pula orangtua banyak yang tidak sadar bahwa tayangan tersebut membawa dampak negatif bagi anak. Tidak heran dalam perjalanannya banyak anak-anak Indonesia yang melakukan penyimpangan-penyimpangan, layaknya kekerasan, pornografi dan pornoaksi.

Dalam konteks ini, orangtua sebagai pendamping anak mempunyai tanggung jawab untuk lebih selektif dalam memilih tayangan yang edukatif bagi anak-anak. Banyak tayangan televisi yang bagi orangtua atau orang dewasa dianggap penting tetapi itu belum juga penting bagi anak. Karena tidak semua tayangan televisi yang bagi orang tua bagus bagi anak juga bagus. Di sinilah orangtua harus pintar memilih dan memilah mana tayangan yang bagus bagi anak dan mana yang jelek bagi anak.



B.     Rumusan Masalah

            Dari latar belakang permasalahan di atas, dapat diambil rumusan masalah sebagai berikut: “Bagaimana dampak siaran TV terhadap anak usia dasar dan bagaimana cara mengatasinya ?”



 BAB II

PEMBAHASAN


A.    PENGARUH TELEVISI TERHADAP ANAK USIA DASAR

Di antara berbagai media massa, televisi memainkan peran yang terbesar dalam menyajikan informasi yang tidak layak dan terlalu dini bagi anak-anak. Menurut para pakar masalah media dan psikologi, di balik keunggulan yang dimilikinya, televisi berpotensi besar dalam meninggalkan dampak negatif di tengah berbagai lapisan masyarakat, khususnya anak usia dasar. Memang terdapat usaha untuk menggerakkan para orangtua agar mengarahkan anak-anak mereka supaya menonton program atau acara yang dikhususkan untuk mereka saja, namun pada prakteknya, sedikit sekali orangtua yang memperhatikan ini.

Kecemasan orangtua terhadap dampak menonton televisi bagi anak-anak memang sangat beralasan, mengingat bahwa banyak penelitian menunjukkan televisi memang memiliki banyak pengaruh baik negatif maupun positif. Yang dikhawatirkan dari kalangan orang tua adalah anak-anak yang belum mampu membedakan mana yang baik dan buruk serta mana yang pantas dan tidak pantas, karena media televisi mempunyai daya tiru yang sangat kuat bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak

Namun demikian harus diakui bahwa kebutuhan untuk mendapatkan hiburan, pengetahuan dan informasi secara mudah melalui televisi juga tidak dapat dihindarkan. Televisi, selain selalu tersedia dan amat mudah diakses, juga menyuguhkan banyak sekali pilihan, ada sederet acara dari tiap stasiun televisi, tinggal bagaimana pemirsa memilih acara yang dibutuhkan, disukai dan sesuai dengan selera.

Banyak hal yang belum diketahui oleh seorang anak usia dasar, oleh karena itu kalau tidak ada yang memberi tahu ia akan mencari sendiri dengan mencoba-coba dan meniru dari orang dewasa. Apakah hasil percobaan maupun peniruannya benar atau salah, anak mungkin tidak tahu. Di sinilah tugas orangtua untuk selalu memberi pengertian kepada anak, secara konsisten. Kebingungan anak karena standar ganda yang diterapkan orangtua juga bisa teratasi kalau orangtua memberi penjelasan kepada anak. 
Kalaupun tidak sempat mendampingi anak, orangtua sebaiknya menyeleksi program televisi mana yang benar-benar cocok untuk anak. Sebelum anak diijinkan untuk menonton program televisi tertentu, orangtua sudah mengetahui program tersebut cocok atau tidak untuk anak, jadi orangtua sudah pernah terlebih dulu menonton program tersebut dan melakukan evaluasi.
Read more

Selasa, 20 Desember 2011

Teori Filsafat


I.  PENDAHULUAN
Psikoanalisis dan psikologi analisis sangat dipengaruhi oleh pandangan positivisme yang mendasari fisika dan biologi pada abad ke-19. Manusia dipikirkan sebagai sistem kompleks energi yang memelihara diri dengan tujuan mempertahankan diri dan mempertahankan jenis menurut hukum evolusi, berbagai proses psikologis terjadi untuk mencapai tujuan ini.
Di samping fikiran seperti yang digambarkan di atas itu, pada akhir abad 19, juga terdapat arah pikiran yang lain, yang terutama dipengaruhi oleh sosiologi dan antropologi yang sedang berkembang pesat pada dewasa itu. Menurut ilmu-ilmu sosial ini, manusia adalah terlebih-lebih hasil masyarakat di mana ia hidup, manusia adalah terutama makhluk sosial dari pada makhluk biologis, sedikit demi sedikit pandangan ini makin meresap ke dalam psikologi dan mendewasakan psikologi dan akhirnya mempengaruhi kepribadian. Salah satu teori kepribadian yang memakai cara pendekatan psikologi sosial adalah individual psikologi yang didirikan oleh Adler.

II. PEMBAHASAN
A. Latar Belakang Adler
Alfred Adler lahir di Wina pada tahun 1870. Dia menyelesaikan studinya dalam lapangan kedokteran pada Universitas Wina pada tahun 1895. Mula-mula ia mengambil spesialisasi dalam Ophthalmology, dan kemudian dalam lapangan psikiatri. Mula-mula bekerja sama dengan Freud dan menjadi anggota, yang akhirnya menjadi Presiden “Masyarakat Psikoanalisis Wina”, namun dia segera mengembangkan pendapatnya yang menyimpang dari Freud, yang akhirnya ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai presiden serta dari keanggotaan “Masyarakat Psikoanalisis Wina”, dan mendirikan aliran baru yang diberi nama individual psychologic (pada tahun 1911).
Sejak tahun 1935 Adler menetap di Amerika Serikat, di sama ia melanjutkan prakteknya sebagai ahli penyakit syaraf dan juga menjadi guru besar dalam psikologi media di Long Island College of Medicine. Dia meninggal di Scotland pada tahun 1937.

B. Pokok-pokok Teori Adler
Teori Adler dapat difahami lewat pengertian pokok yang dipergunakannya untuk membahas kepribadian. Adapun teori-teori Adler adalah sebagai berikut :
1.  Individualitas sub Pokok Persoalan
                        Adler memberi tekanan kepada pentingnya sifat khas kepribadian yaitu individualitas kebulatan seta sifat-sifat pribadi manusia, menurutnya setiap orang adalah suatu konfigurasi motif-motif, serta nilai-nilai yang khas. Tiap tindakan yang dilakukan oleh seseorang membawakan corak khas gaya kehidupannya yang bersifat individual.
2. Pandangan Teologis Finalisme Semu
                        Sehabis memisahkan dari Freud, Adler lalu dipengaruhi oleh filsafat “seakan-akan” yang dirumuskan oleh Hans. Vai Hinger dalam bukunya Diet Philosophic des Als-Ob; Hans mengemukakan bahwa manusia hidup dengan berbagai macam cita-cita / fikiran yang semata-mata bersifat semu, yang tidak ada buktinya dalam realitas. Gambaran-gambaran yang semu demikian itu misalnya “semua manusia ditakdirkan sama” “kejujuran adalah politik yang paling baik”, tujuan mengesahkan alat dan sebagainya.
3. Dua Dorongan Pokok
                        Di dalam diri manusia terdapat 2 dorongan pokok, yang mendorong serta melatarbelakangi, segala tingkah laku yaitu :
a. Dorongan kemasyarakatan yang mendorong manusia bertindak, yang mengabdi kepada masyarakat
b. Dorongan keakuan yang mendorong manusia bertindak yang mengabdi kepada aku sendiri
4. Rasa Rendah Diri dan Kompensasi
                        Sejak dia menjadi dokter, Adler telah menaruh perhatian terhadap fungsi-fungsi jasmani yang kurang sempurna, hal ini dirumuskan dalam organ minder word light at the psycho compensational. Mula-mula ia menyelidiki tentang kenapakah orang sakit menderita di daerah-daerah tertentu pada tubuhnya.
5. Dorongan Kemasyarakatan
                        Pada mulanya Adler mementingkan dorongan keakuan masalah rendah diri dan usaha menjadi superior, karena itu ia mendapat banyak kecaman dan akhirnya meluas pendapatnya dan mencakup juga dorongan kemasyarakatan dalam bentuk konkritnya, dorongan ini misalnya : berwujud kooperasi, hubungan sosial, hubungan antar pribadi, mengikatkan diri dengan kelompok dan sebagainya.
6. Gaya Hidup Littleneck
                        Gaya hidup adalah pengertian yang sentral dalam teori Adler, tetapi juga pengertian yang paling sukar dijelaskan. Gaya hidup ini adalah prinsip yang dipakai landasan untuk memahami tingkah laku seseorang tiap orang punya gaya hidup masing-masing, tiap orang mempunyai tujuan yang sama, yaitu mencapai superioritas, tapi caranya beda-beda.

C. Arti Psikologi Individual
      Psikologi individual mempunyai arti yang penting, sebab cara untuk memahami tingkah laku manusia, pengertian seperti gambaran semu, rasa rendah diri, kompensasi, gaya hidup, diri yang kreatif, memberi pedoman untuk memahami semua manusia. Aliran ini tidak memberikan susunan yang teliti mengenai struktur, dinamika, serta perkembangan kepribadian, tetapi memalingkan perumusan petunjuk, praktis untuk memahami sesama manusia. Karena itulah justru dalam teori Adler ini punya arti yang sangat penting, karena hal-hal berikut ini:
1.      Penentuan-penentuan tujuan yang susila seperti
- ­Keharusan memikul tanggung jawab
- keberanian menghadapi kesukaran hidup
- mengikis dorongan keakuan dan mengembangkan dorongan ke masyarakat.
2.      Optimismenya dalam bidang pendidikan, lain dari hal tersebut, pendekatannya secara psikologi sosial berarti membuka halaman baru dalam bidang psikologi kepribadian.
Read more